https://drive.google.com/file/d/13t15N27m5IkweAmOQ4EyiBeVZSlarXVF/view?usp=drivesdk
SELENGKAPNYAMateri Dasar Haal dan Shohibul Haal
HAAL merupakan keterangan kondisi / keadaan untuk menjelaskan keadaan sebuah subjek yaitu SHOHIBUL HAAL. Perhatikan contoh dibawah ini:
* ذَهَبَ خَالِدٌ رَاكِبًا = Khalid pergi dengan berkendaraan.
Kalimah (kata) رَاكِبًا merupakan HAAL sebagai penjelasan bagaimana cara Khalid (subjek) pergi. Sedangkan Khalid adalah SHOHIBUL HAAL (pemilik keadaan).
Pada jumlah fi'liyyah, haal bisa digunakan untuk menjelaskan keadaan fa'il atau maf'ul bih. Contoh:
* جَاءَ زَيْدٌ مُتَبَسَّمًا = Zaid datang dengan tersenyum.
* رَأَيْتُ زَيْدً بَاكِيًا = Aku melihat zaid menangis.
KAIDAH HAAL
Materi ini mudah untuk dipahami dengan mengingat beberapa kaidah haal berikut ini:
- Haal harus NAKIROH
- Haal harus MANSHUB
- Shohibul hal harus MA'RIFAH
- Haal dan shohibul haal harus sama dari segi JENIS dan BILANGANNYA.
Fi'il Amar Ghoib dan Fi'il Amar Hadhir
1. FI'IL AMAR GHOIB
- Fi'il amar ghoib: لِيَضْرِبْ = memukullah ia / hendaklah ia memukul.
- Fi'il mudhori': يَغْزُوْ = dia sedang / akan menyerang
- Fi'il amar ghoib: لِيَغْذُ = hendaklah ia menyerang
- Fi'il amar ghoib: لِيَضْرِبُوا - hendaklah MEREKA memukul.
- Contoh 2: فَلْيَدْرُسُوا = MAKA hendaklah mereka belajar
2. FI'IL AMAR HADHIR
Sifat Musyabbahah
Untuk isim fa'ilnya digantikan oleh sifat musyabbahah. Dinamakan demikian karena ia serupa isim fa'il. Dan dari sifat musyabbahah ini Anda akan mengerti asal isim sifat (na't) diturunkan dari fi'il berwazan seperti apa.
Contoh:
- Fi'il madhiy: حَسُنَ
- Fi'il mudhori': يَحْسُنُ
- Masdar: حُسْنًا
- Sifat musabbahah: حَسَنٌ
Karena fi'il dengan wazan ini tidak memiliki fi'il amar, maka sebagai gantinya kita bisa mengatakan "كُنْ حَسَنًا = jadilah baik". Kalimah حَسَنًا berubah manshub karena menjadi isim maf'ul zhohir dari kalimah كُنْ.
WAZAN SIFAT MUSABBAHAH
Wazan pada sifat musabbahah adalah sama'i, tapi umumnya berwazan فَعِيْلٌ kemudian فَعْلٌ atau فَاعِلٌ.
Contoh: كَبُرَ - يَكْبُرُ (besar) maka sifat musabbahahnya كَبِيْرٌ mengikuti wazan فَعِيْلٌ.
Biasanya untuk antonimnya juga menggunakan wazan yang sama. Misalnya كَبُرَ (besar) antonimnya adalah صَغُرَ (kecil) dan sifat musabbahahnya صَغِيْرٌ.
Adapun kalimah (kata) كَبِيْرٌ dalam isim dikategorikan sebagai isim sifat yang masuk dalam pembahasan na't - man'ut.
Contoh: بَيْتٌ كَبِيْرٌ = rumah besar
PERBEDAAN ISIM FA'IL DAM SIFAT MUSABBAHAH
Perbedaan menggunakan isim fa'il sebagai khobar dengan isim sifat musyabbahah sebagai sifat pada kalimah isim adalah sebagai berikut:
* Jika isim fa'il sebagai khobar maka ia bermakna 'ARIDHI yaitu hanya sekali-sekali atau bersifat sementara.
Contoh: خَالِدٌ جَالِسٌ = Khalid duduk. Maksudnya Khalid adalah orang yang sedang duduk dan tidak selamanya duduk.
* Sedangkan isim sifat musyabbahah memiliki makna selalu atau selamanya.
contoh: ذٰلِكَ بَيْتٌ كَبِسْرٌ = itu rumah besar. Artinya rumah itu ukurannya tetap besar selamanya.
SIFAT MUSABBAHAH DARI WAZAN FI'IL YANG BERBEDA
Sifat musyabbahah juga bisa diturunkan dari fi'il lazim dengan wazan yang berbeda.
Contoh: فَطِنَ kemudian didapatkan sifat musyabbahah فَطِنٌ (cerdas).
Dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik, implementasi sifat musabbahah dalam jumlah menggunakan istilah "maushuf - maushuf lafazh".
Contoh: ثَوْبٌ جَمِيْلٌ = baju bagus. Kalimah جَمِيْلٌ sebagai maushuf, sedangkan ثَوْبٌ sebagai maushuf lafazh.
TIPS MENCARI FI'IL DARI ISIM SIFAT
Setelah memahami tashrifan pada sifat musabbahah diatas, itu akan membantu kita untuk mencari fi'il dari sebuah isim sifat. Misalnya untuk kalimah كَبِيْرٌ berasal dari fi'il كَبُرَ, maka untuk isim sifat lainnya besar kemungkinan mengikuti wazan yang sama yaitu فَعُلَ, atau mengikuti wazan fi'il lazim lainnya. Selanjutnya kita tinggal melakukan verifikasi di kamus online untuk memastikan kebenaran.
Disimpulkan dari Kitab Alfiyah dan kitab lainnya SELENGKAPNYA
Tasrif Lughowi Fi'il Mu'Tal Akhir
Tashrif lughowi pada fi'il mu'tal memiliki qoidah yang berbeda dengan fi'il shohih. Untuk memahaminya lebih rinci Anda perlu memahami materi I'LAL. Namun disini penulis mengambil bagian mudahnya saja dan hanya fokus pada tashrif fi'il mu'atal akhir, baik perubahan fa'il isim dhomirnya atau perubahan ke bentuk mudhori'.
MENGETAHUI ASAL ALIFNYA
Dalam pembahasan ini penulis memgambil contoh kalimah fi'il دَعَا yang artinya "menyeru". Kalimah دَعَا diakhiri huruf 'ilah yaitu ALIF. Nah, salah satu tips untuk mengetahui asalnya alif ini bisa dengan cara melihat tashrif fi'il mudhori'nya yaitu يَدْعُوْ. Maka didapati lah huruf WAWU sebagai asal ALIF dari kalimah دَعَا. Karena huruf asalnya wawu maka kalimah دَعَا disebut sebagai BINA' NAQISH WAWI.
Lalu apa manfaatnya kita mengetahui asal hurufnya?
Huruf asal tersebut akan berfungsi ketika fi'il mu'tal akhir dimasuki fa'il isim dhomir. Berikut contoh tashrif lughowinya:
1. FI'IL MADHI MU'TAL AKHIR
- دَعَا = dia menyeru.
- دَعَتْ = dia (pr) menyeru. Alif dibuang karena mencegah bertemunya dua sukun.
- دَعَوْتُ = saya menyeru. WAWU berfungsi dengan sukun.
- دَعَوَا = dia berdua menyeru. WAWU berdungsi dengan fathah.
- دَعَوْتَا = dia berdua (menyeru). WAWU berfungsi dengan sukun.
- دَعَوْا = mereka menyeru. WAW berfungsi dengan sukun.
Untuk fa'il isim dhomir lainnya silahkan mengambil contoh diatas.
2. FI'IL MUDHORI' MU'TAL AKHIR
- يَدْعُوْ = dia sedang / akan menyeru.
- يَدْغُوا = mereka sedang / akan menyeru.
Pada AF'ALUL KHOMSAH huruf 'illahnya dibuang. Jadi WAWU pada يَدْعُوا merupakan bagian dari ghoib jama'.
3. FI'IL AMAR & NAHI MU'TAL AKHIR
Adapun jika ditashrif ke fi'il amar maka huruf 'illahnya dibuang contoh:
ادْعُ إِلٰى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ...
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah..."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)
Seagaimana implementasinya pada fi'il amar, begitupula qoidahnya pada fi'il nahi.
PERHATIAN!
Materi yang penulis bahas disini adalah fi'il mu'tal akhir. Adapun bila sebuah fi'il memiliki huruf 'illah ditengahnya dan bukan di akhir seperti قَلمَ maka itu disebut sebagai FI'IL MU'TAL. Qoidah yang berlaku padanya juga berbeda. Sehingga jalan satu-satunya untuk mengetahui perubahan pada fi'il mu'tal adalah dengan mempelajari i'lal.
Disusun dari Kitab Alfiyah dan memverifikasi qoidah pada sejumlah matan hadits SELENGKAPNYA
Jazm Dengan Satu Fi'il
ALAMAT JAZM
Jazm memiliki dua alamat i'rob yaitu sukun dan membuang (hadzfun). Berikut qoidah implementasi jazm:
* Jazm pada fi'il mudhori' shohihul akhir maka mu'robnya dengan adanya sukun di atas huruf terakhir.
Contoh: لَا تَكْتُبْ = jangan kamu menulis! Asalnya dari fi'il mudhori' كَتَبَ.
* Jazm pada fi'il mudhori' mu'tal akhir maka murobnya dengan membuang huruf 'illahnya.
Contoh: لَا تَغْذُ = jangan kamu menyerang! Asalnya dari fi'il mudhori' تَغْذُوْ, lalu ketika majzum dengan lam nahi maka huruf WAWU-nya dibuang.
* Jazm pada AF'ALUL KHOMSAH maka mu'robnya dengan nembuang huruf NUN.
Contoh: لَا تَكْتُبِي = jangan kamu (pr) menulis, atau لَا تَكْتُبُوا = jangan kalian menulis, dst. Asal kedua fi'il nahi diatas dari fi'il mudhori' تَكْتُبِيْنَ dan تَكْتُبُوْنَ.
Sebenarnya penjelasan jazm diatas tidak lain juga penjelasan untuk fi'il nahi. Jadi jika Anda bertanya bagaimana cara kerja fi'il nahi itu maka contohnya pembahasan diatas.
AMIL / ADAWAT JAZM
Adapun yang menjadi amil-amil untuk jazm dengan SATU FI'IL yaitu أَلَمَّا, أَلَمْ, لَمَّا, لَمْ, ل, لَا. Karena لَا nahi telah penulis jelaskan diatas, maka selanjutnya penulis hanya akan membahas 5 amil jazm saja.
1. LAM AMAR (ل)
Huruf ل amar dengan harokah kasroh adalah amil yang hanya masuk pada fi'il mudhori'. Contoh:
- لِيَدْرُسْ = hendaknya ia belajar
- لِتَغْذُ = hendaknya kamu memerangi
- لِتَخْرُجُوا = hendaknya kalian keluar
Jika amil ini dimasuki huruf ف atau و maka LAM berubah sukun, contoh:
- فَلْيَضْرِبْ = maka hendaknya ia memukul
Perlu diketahui bahwa ia disebut LAM AMAR ketika kalimat dilafazhkan oleh yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang dibawahnya, seperti perintah Allah keada hambaNya. Namun sebaliknya apabila ia dari yang rendah kedudukannya kepada yang lebih tinggi maka ia disebut LAM DU'A (do'a). Dinamakan demikian dalam rangka adab. Contohnya seperti seorang budak yang memohon kepada tuannya atau seperti seorang hamba yang berdo'a kepada Allah. Tapi jika yang memerintah dan yang diperintah sama kedudukannya maka ia disebut LAM ILTIMAS.
Fi'il dengan LAM AMAR secara peruntukkan dibagi dua yaitu AMAR HADHIR (untuk mukhothob) dan AMAR GHOIB (untuk ghoib).
2. LAM NAFI (لَمْ)
Amil ini hanya masuk pada fi'il mudhori'. Huruf لَمْ nafiyyah sebagai amil jazm memiliki sighot QOLB yaitu merubah zaman yang ada pada fi'il mudhori' (hal dan mustaqbal) menjadi zaman yang telah lampau (madhi). Contoh:
- لَمْ أفْحَمْ الدَّرْسَ = saya tidak / belum faham pelajaran itu
Makna kalimat diatas bahwa si pelaku belum faham dengan pelajaran tersebut sampai waktu yang tidak ditentukan.
Huruf LAM NAFI ini bisa didahuli oleh amil jazm untuk dua fi'il seperti إِنْ, akan tetapi dengan konsekuen zamannya akan berubah menjadi mustaqbal.
3. LAMMA NAFI (لَمَّا)
Amil ini juga termasuk huruf nafi yang memiliki sighot yang sama dengan LAM NAFI di atas. Contoh:
- لَمَّا أَفْحَمْ الدَّرْسَ = saya tidak / belum faham pelajaran itu.
Maknanya bahwa si pelaku belum faham dengan pelajaran tersebut sampai waktu sekarang ini (hal). Bedanya dengan LAM NAFI bahwa LAM NAFI berlaku sampai waktu yang tidak ditentukan. Kemudian huruf LAMMA NAFI ini tidak boleh digunakan pada kejadian yang tidak mungkin terjadi. Jadi untuk kasus seperti itu yang digunakan adalah LAM NAFI. Contohnya:
Huruf LAMMA ini tidak boleh berada sebelum ataupun sesudah amil syarat yaitu amil jazm dengan dua fi'il.
4. HURUF أَلَمْ DAN أَلَمَّا
Untuk memahami kedua huruf ini maka Anda harus memahami dua huruf nafi diatas. Karena huruf أَلَمْ asalnya dari لَمْ, sedangkan أَلَمَّا asalnya dari لَمَّا. Perbedaannya pada dua amil ini ditambah huruf hamzah istifham bermakna TAKRIRI, yaitu penegasan kepada seseorang untuk mengikrarkan suatu kejadian. Contohnya pada surah Al-Fil ayat pertama:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحٰبِ الْفِيلِ
"Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?"
(QS. Al-Fil 105: Ayat 1)
Semoga dapat dipahami.
Dirangkum dari Alfiyah Ibnu Malik dan referensi tambahan
Dasar-Dasar Idhofah
* هٰذَا خَاتَمٌ = ini cincin
Kalimah خَاتَمٌ (cincin) adalah isim karena dapat menerima tanwin. Jumlah (kalimat) di atas memang menunjuk sebuah benda yang disebut cincin. Tapi kalimah (kata) خَاتَمٌ disini masih bermakna UMUM, belum jelas diketahui ini cincin apa, milik siapa atau terbuat dari apa. Maka untuk memperjelas maknanya adalah dengan mentaqyid (membatasi) makna umum isim tersebut dengan idhofah.
Contoh I: خَاتَمُ خَالِدٍ = cincinnya Khalid
Kalimah (kata) pertama dalam idhofah diatas disebut MUDHOF, sedangkan kalimah kedua disebut MUDHOF ILAIHI. Kedua kalimah pada Contoh I adalah isim karena dapat menerima tanwin. Tetapi kalimah خَاتَمُ kehilangan tanwinnya sebab ia menduduki posisi MUDHOF.
Kaidah Mudhof
- Isim yang menjadi mudhof tidak boleh dimasuki ال.
- Mudhof wajib membuang tanwin, jika sebelumnya isim yang menjadi mudhof memiliki tanwin.
Kaidah Mudhof Ilaihi
- Isim yang menjadi mudhof ilaihi dapat dimasuki ال.
- Mudhof ilaihi tetap dengan tanwin jika sebelumnya isim yang menjadi mudhof ilaihi memiliki tanwin.
- Jika mudhof ilaihi dimasuki ال maka wajib membuang tanwin.
- Mudhof ilahi wajib MAJRUR yaitu harokat KASROH pada huruf terakhir, kecuali jika ia berupa isim ghoiru munshorif.
- Mudhof ilaihi dari isim ghoiru munshorif wajib MANSHUB yaitu harokat FATHAH pada huruf terakhir, dan tidak bertanwin sekalipun tanpa ال.
- Jika isim ghoiru munshorif yang menjadi mudhof ilaihi dimasuki ال maka ia wajib MAJRUR.
IDHOFAH SECARA TERSIRAT
Idhofah merupakan salah satu sebab majrur. Oleh sebab itu para ahli ilmu nahwu berkesimpulan bahwa secara tersirat idhofah menyimpan huruf-huruf khofadh yang menyebabkan terjadinya majrur pada mudhof ilaihi, yaitu huruf ل, فِيْ, مِنْ. Oleh karenanya secara makna idhofah dibagi menjadi tiga.
1. Idhofah dengan makna مِنْ
Contohnya هٰذَا خَاتَمُ ذَهَبٍ (ini cincin besi). Idhofah ini menjelaskan sebuah cincin yang terbuat dari material besi. Sehingga takdirannya adalah هٰذَا خَاتَمٌ مِنْ ذَهَبٍ.
2. Idhofah dengan makna فِيْ
Contohnya عُثْمَانُ شَهِيْدُ الدَّارِ ('Utsman Ra. adalah seorang yang mati syahid di rumah). Takdirannya adalah عثْمَانُ شَهِيْدٌ فِيْ الدَّارِ.
3. Idhofah dengan makna ل
IDHOFAH DENGAN DHOMIR
Idhofah juga dapat disusun dari ISIM + DHOMIR. Ini juga disebut sebagai idhofah bil khofadh atau idhofah bil jar. Berikut contohnya:
- كِتَابُكَ = bukumu
- قَلَمُهُ = penanya
- بَيْتُهُمْ = rumah mereka
Disusun dari Kitab Alfiyah dan referensi lainnya
Jika Mutsanna Menjadi Mudhof Atau Dimasuki Dhomir
Mutsanna Menjadi Mudhof Dalam Keadaan ROFA'
Ketika rofa', NUN mutsanna dibuang dan alif ditetapkan. Contohnya:
- Asalnya: مُدَرِّسَانِ = dua bapak guru
- Idhofah: مُدَرِّسَا اللُّغَةِ = dua bapak guru bahasa.
Apabila dimasuki dhomir (selain ya mutakallim) maka bentuknya seperti ini:
- ذَانِكَ مُدَرِّسَاكَ = itu dua bapak gurumu
- ذَانِكَ مُدَرِّسَاهُ = itu dua bapak gurunya
Mutsanna Menjadi Mudhof Dalam Keadaan NASHOB atau JAR
Ketika nashob atau jar, NUN dibuang kemudian YA diberi harokat KASROH untuk membedakannya dengan jama' mudzakkar salim ketika mudhof dalam keadaan manshub. Contohnya:
- Asalnya: عَنْ مُدَرِّسَيْنِ = dari dua bapak guru.
- Idhofah manshub: رَأَيْتُ مُدَرِّسَيِ اللُّغَةِ = aku melihat dua bapak guru bahasa.
- Idhofah majrur: عَنْ مُدَرِّسَيِ اللُّغَةِ = dari dua bapak guru bahasa.
Apabila dimasuki dhomir (selain ya mutakallim) maka bentuknya seperti ini:
- عَنْ مُدَرِّسَيْكَ = dari dua bapak gurumu
- رَأَيْتُ مُدَرِّسَيْكُمْ = aku melihat dua bapak guru kalian